Mualaf Senduro, Sempurnakan Islam Dengan Nikah Jilid Dua
Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Kabut putih pun masih menggelayut di sepanjang langit desa Puncak, Argosari. Desa yang tingginnya 170 dari permukaan laut. Terletak di sebelah Timur gunung Bromo. Udara dingin mengalir sepoy-sepoy menusuk kulit. Namun hal itu tidak dihiraukan Ngatiri (50). Pria paruh baya ini, bersama Sunarti, istrinya menembus ‘gigitan’ pagi kaki bukit gunung Bromo itu menuju sebuah Masjid di dusun Tempuran, Senduro. Kedatangan keduannya tidak lain untuk menikah lagi. Bukan untuk istri kedua, namun untuk memperbaharui pernikahan yang dulu tahun 1940 ia lakukan secara Hindu.
Tidak membawa perlengkapan nikah layaknya calon pengantin pada umumnya. Ngatiri hanya memakai baju kusam dan sandal jepit. Dia tahu, perlengkapan nikah beserta maharnya telah disediakan Baitul Mal Hidayatullah (BMH). Jadi, Ngatiri hanya modal datang saja. Setibanya di Masjid Nurul Huda, Ngatiri bertemu 70 pasang pengantin lainnya. Mereka datang dari berbagai daerah di Senduro. Seperti, Pusung Duwur, Wonocempoko Ayu, Argosari, dan Burno. Sebagian besar mereka telah menikah dan beragama muslim. Hanya beberapa saja yang mualaf.
Ngatiri adalah salah satu peserta mualaf. Masuk islam pada tahun 2007. Sebelumnya menganut agama Hindu. Awal mula mengenal islam dari para dai asal Hidayatullah Lumajang yang setiap hari mengajaknya berdiskusi tentang islam. Sejak itulah, Ngatiri kepincut ingin masuk islam. Ketika ditanya alasannya, Ngatiri mengaku bahwa islam agama yang mengajarkan kebersihan. “Setiap shalat wajib berwudhu” tutur Ngatiri mantap. Hal itu menurutnya tidak ditemukan di agama Hindu. Setelah memeluk islam, keimanan Ngatiri semakin kuat. Ngatiri mulai mengerjakan ajaran islam sedikit demi sedikit. Pada akhir Agustus 2008, Ngatiri mengikuti sunat masal yang diadakan BMH.
Ada hal menarik ketika kakek tiga cucu ini melakukan aktivitas suami istri. , Menurutnya lebih enak sunat dari pada nggak. “Ya adalah mas, pokonya lebih enak,”ujarnya sambil tersenyum malu. Meski sudah tua, untuk berbicara hal itu Ngatiri masih sangat nyambung. Untuk lebih memantapkan lagi pernikahannya, Ngatiri pilih ikut nikah masal secara islam. ketika ditawari dai Hidayatullah, Ngatiri langsung setuju. Sebagaimana pengantin lainnya, Ngatiri ikut dirias. Wajahnya dipupuri dan bibirnya diberi lipstik berona merah. Dengan dirias, wajah paruh baya Ngatiri nampak lebih muda. Walau labirin-labirin wajah tuanya masih nampak jelas. Setidaknya, Ngatiri bisa tampil layaknya pengantin perjaka.
Selain Ngatiri, calon pengantin mualaf lainnya adalah Paiti (20). Dia menikah secara Hindu dengan Sumo 12 tahun yang lalu. Kini memiliki satu anak, Irfan Efendi (8). Keduanya memutuskan diri masuk islam pada tahun 2007 yang lalu. Alasan Paiti masuk islam, karena iri melihat teman-teman Irfan mengaji al-Quran di Mushola. Sedangkan anaknya di Hindu tidak memiliki aktivitas serupa. Menurutnya Hindu di Puncak Argosari jarang ada kegiatan. Begitu juga dengan ibadahnya. “Kalau sembahyang pun sendirian, beda dengan islam yang selalu berjamaah,” tutur Paiti. Meski Sumo, suaminya sejak kecil beragama Hindu, namun sudah sunat sejak kecil. Para calon pengantin tidak semuanya mualaf, sebagia besar muslim. Namun dulunya nikah secara siri jadi tidak memiliki surat nikah.
Meski pernikahan mereka merupakan “jilid ke-2,” suasana sakral tetap nampak kental. 70 pasang pengantin khusuk mengikuti jalannya acara. Para pengantin ditempatkan di Masjid dan dibagi menjadi dua bagian. Sebelah kanan lak-laki dan kiri perempuan. Namanya nikah usia tua. Banyak pengantin perempuan di sela-sela prosesi pernikahan yang melakukan aktivitas lain. Ada menggendong anaknya dan ada pula yang menyusui atau sibuk menenangkan anaknya yang nangis.
Sebelum ijab Kabul dimulai, penghulu terlebih dulu memanggil calon pengantin perempuan yang nikah dengan wali hakim. Mereka adalah orang tuanya masih beragama Hindu atau ada yang telah meninggal dunia. Jumlahnya sekitar 28 orang. Di antara pengantin dengan wali hakim, ada 3 pengantin yang bersaudara, Juwita, Karti dan Pujiati. Kontan saja, mereka menjadi sorotan banyak tamu sekaligus para pemburu berita.
Setelah itu, pasangan calon pengantin yang memiliki wali dipanggil satu persatu. Tidak memerlukan waktu lama sebab, ada sekitar 8 penghulu yang siap menikahkan mereka. Mereka dibayar cuma-cuma. “Mereka bekerja secara sosial, jadi tarifnya juga sosial” tutur M. Chofadz, ketua Panitia nikah masal. Untuk memprmudah ijab Kabul , penghulu menggunakan 2 bahasa, Arab dan Jawa. Tidak jarang, penghulu mengulang-ulang serah terima ijab Kabul karena sang pengantin laki-laki belum hafal.
Baru setelah ijab Kabul , mereka disuruh berdiri berpasangan. sang suami memberikan mahar kepada masing-masing istri mereka. Karena jumlahnya banyak, maka ada seorang penghulu yang mewanti agar jangan sampai ketukar pasangan. “Hati-hati, jangan sampai ke tukar pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum.
Tidak berlansung lama, prosesi akad nikah selesai. Dari masjid, para pengantin kemudian diarak menuju lapangan Senduro, yang berada tak jauh dari Masjid. Diiring dengan tabuhan rebana dan sholawat nabi. Para pengantin berjalan menjadi dua baris. Masing-masing pasangan saling berpasangan. di sepnajang jalan, puluhan pasang mata warga memerhatikan setiap gerak para pengantin. Maklum ini adalah pemandangan baru bagi warga senduro. Di lapangan, terop berkapasitas sekitar 500 orang telah tersedia. Untuk para pengantin disiapkan di depan panggung.
Mereka dibagi menjadi dua bagian. Sebelah kanan dan kiri. Ditengahnya, spanduk besar, bertuliskan selamat bagi para pengantin baru. Ketika itu, kursi bagian depan, yang khusus untuk penjabat setempat masih kosong. “bapak bupati, Syahrazad masih dalam perjalanan” tutur salah seorang panitia. Sekitar 20 menit kemudian baru orang nomer satu di Lumajang itu tiba. Acara ini sebenarnya berisi sambutan dari panitia dan bapak bupati sekaligus tausiyah. Namun, lebih cocok bila dibilang resepsi pernikahan. Resepsi paling meriah yang pernah ada di lumajang, dihadiri bupati dan lebih 500 tamu undangan. “Acara pernikahan paling meriah dari acara yang ada di Lumajang. Di hadiri bapak Bupati dan dihadiri banyak orang. Ini pertanda yang nikah adalah orang-orang penting,”tutur pembawa acara.
Di saat memberikan sambutanya, Syahrazad, mengucapkan terimkasih kepada Hidayatullah yang telah membina masyarakat senduro. Menurut Syahrazad, apa yang telah dilakukan Hidayatullah merupakan langkah yang bagus. Oleh karena itu, dia berharap agar hidayatullah kedepanya tetap melakukan pembinaan di Senduro.
Beda lagi yang disampaikan ustadz, As’ad dalam tausiyahnya.
Menurutnya nikah berasal dari tiga huruf. Nun, kaf, dan kha. Nun-nya itu nikmat, khaf-nya karamah (kemuliaan), dan ha-nya hikmah. Oleh karena itu, jika kita menikah nscaya banyak nikmat dan keberkahan yang didapat. As’ad mencontohkan dengan tanpa malu. “Manusia telah diberi Allah fasilitas, kalau laki-laki zakar sedangkan permpuan farj, alat ini harus disalurkan dengan benar dan kepada haknya, jangan sampai nyasar, ujar As’ad yang disambut tawa peserta.
Di tengah-tengah acara itu, ada sepasang pengantin yang bersahadat. Pasangan ini adalah, Warto dan Sumariah. Pasangan yang baru bersyahadat ini langsung dinikahkan didepan bupati dan disaksikan oleh ratusan undangan.
ditulis oleh: Syaiful Anshor
0 komentar:
Posting Komentar