Senin, 23 Maret 2009

Jangan Berharap Pada Obama


“Obama adalah presiden Yahudi pertama Amerika.” Demikian kata Abner Mikva. Sedangkan Noam Chomsky, “Dialah jelmaan Bush versi 2.0”. Pauline Dubkin, dalam “Obama and the jews” lebih tegas lagi, “Yahudi mengolah Obama. Dimanapun kamu lihat, di situ nampak kehadiran Yahudi.” Jadi, Obama dan Yahudi, ibarat mata uang yang interdependensi. Bisa juga dikatakan, Obama representasi Yahudi di Amerika yang tidak disanksikan lagi.


Sayang, hal itu belum disadari banyak negara. Termasuk Indonesia , sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak. Buktinnya, setelah peresmian Obama menjadi presiden Amerika, banyak tokoh islam yang mengucapkan selamat. Tidak sekedar greeting, namun juga ekspektasi pada Obama. Obama akan membawa angin segar untuk mengharmoniskan hubungan Amerika dengan Negara-negara islam di timur tengah yang sedang memanas. Ekspektasi tersebut dilontarkan oleh beberapa tokoh muslim Indonesia , seperti Din Samsuddin, Hidayat Nurwahid, dan Jusuf Kalla.

Disisi lain, hal itu wajar. Sebab, sihir dan konspirasi Obama telah menciptakan good opini tentang dirinya. Setidaknya, banyak orang tersihir pada eks anak Menteng ini. Tak pelak, jika banyak mata silau untuk melihat presiden Afro-American itu tidak secara jernih. David Olive mengatakan, “Blinded by The Light.” Kita bisa lihat, bagaimana sihir Obama mewabahai hampir setiap orang, dengan dia seorang Anak Menteng, mempunyai nama mirip islam “Hussein”, dan berasal ras kulit hitam. Ras yang dulu menjadi number two di Amerika. Ibarat mukjizat, kini pria berambut kribo itu malah menjadi orang nomer wahid di negeri Paman Sam. Bangsa kulit putih. Beberapa sihir itulah yang kini menancap kuat di setiap buhul-buhul banyak orang.

Padahal, siapa sih Obama? Obama tidak lain Yahudi. Hal itu disampaikan sendiri Barack Hussein Obama tentang kaitannya dengan namannya. Obama tidak mau nama Barack dikaitkan dengan bahasa Arab, melainkan bahasa Ibrani, Yahudi. Hal itu dia sampaikan di dalam sebuah pertemuan dengan komunitas Yahudi di Boston, dengan tegas Obama mengatakan bahwa “Barack” diambil dari bahasa Ibrani “Baruch” yaitu “Barak” yang berarti keberkahan.

Nama kedua “Obama” juga hampir sama dengan “Ahabah”, sebuah nama satu upacara untuk bayi-bayi Yahudi, Bent Ahabah. Istrinya pun, Michelle Robinso, memiliki jejak Yahudi dalam darahnya. Wanita itu adalah sepupu Capers C. Funnye jr. pemimpin jemaat Yahudi Ethiopia di kawasan Marquette Garden , Chicago .

Oleh karena itu, tidak terlalu mengagetkan jika kalangan komunitas Yahudi Amerika mengatakan Obama adalah presiden Yahudi pertama. Obama menjadi seperti sekarang pun, karena hasil didikan dan perjuangan mereka. Alan Solow, pemimpin komunitas Yahudi di Chicago sangat gembira atas kemenangan Obama dan nyakin Obama akan mendukung Yahudi. “Dia sama seperti dulu, tidak akan berubah,”ucapnya.

Obama sebenarnya bukan orang popular di Amerika. Lima atau sepuluh tahun lalu, jika dibanding rivalnya, MC Cain, popularitas Obama tidak ada apa-apanya. Namun sebuah media Fox News dan CNN membantunya mengangkat popularitasnya. Kedua media ini melambungkan Obama dengan kata-kata “Hope” dan “Change We Believe In. Kata-kata itupun menjamur di Amerika. Membuat masyarakat Amerika terhipnotis. Mereka menjadi optimis kembali setelah dihajar berbagai krisis dan polemik.

Cara Fox News dan CNN membuat citra Obama naik drastis dengan cara berikut. Membuat Obama menjadi terkenal di mata publik. Dari nobody, menjadi some body. Fox News adalah media milik Taipan Yahudi Rupert Murdoch yang sangat pro Zionis. Media ini sangat berperan dalam membuat Obama popular. Dengan cara menyebarkan tuduhan-tuduhan lemah atas Obama.

Kemudian, membuat rivalnya putus asa. Dengan cara membantah tuduhan-tuduhan “Dirty little secret” itu dengan bantahan melalui media mainstream. Yaitu semua tuduhan terhadap Obama, “Totally False”. Trik tersebut dinamakan reverse psychology. Yaitu menyuruh orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang kita mau, untuk kemudian orang tersebut melakukan keinginan kita.

Dielu-elukannya Obama menjadi presiden Amerika sebenarnya sama hal dengan Bush saat terpilih menjadi presiden. Pada tahun 2000, CAIR (Council on American Islamic Relations) memperoleh polling terbesar pada 1022 muslim Amerika sebanyyak 40 persen. Sedangkan 24 persen Al Gore, 20 persen Nader dan 8 persen tidak memilih.

Dukungan tersebut juga bukan tanpa alasan. Ketika itu, intifada al Aqsa tanggal 29 September 2000, sebelum pemilu Amerika. Sikap Bill Clinton yang mendukung Israel membuat masyarakat tidak suka. Sehingga banyak yang memilih Bush. Namun pada akhrinya, presiden Bush pun menunjukkan wajah asli koboy mendem-nya dalam menginvasi beberapa Negara muslim. Seperti Iraq , Afganistan dan mendukung 100 persen invasi Israel ke Palestina belum lama ini.

Kemudian, bagaimana dengan Obama? Apakah ada angin segar betul-betul akan diwujudkan. Jawabnya tidak. Justru Obama akan lebih dahsyat lagi memusuhi islam. Jika Bush dinilai Obama salah strategi perang dan gerasa-gerusuh, Obama akan bermain cantik. Tentunya dengan kekuatan sihirnya dan cara dia berdiplomasi dan bernegosiasi.

Boleh dibuktikan, yaitu Obama bungkan terhadap atas kejahatan perang Israel terhadap Palestina yang telah menewaskan 1300 rakyat palestina. Tidak hanya itu, obama juga melanjutkan agenda Bush. Sejumlah agenda itu adalah, di Afganistan, Obama akan melanjutkan serangan Bush dengan menambah 30.000 tentara. Pakistan , jika Bush menempatkan Pakistan sebagai mitra dalam memerangi terorisme, Obama tidak segan-segan akan menyerang Pakistan jika menemukan bukti. Jika Bush menyerang Iraq , Obama ingin menarik pasukan, tapi dengan catatan meninggalkan 55.000 pasukan. Sedang untuk Israel , Obama menjanjikan Jerusalem sebagai ibukota Israel dengan mengesampingkan hak-hak rakyat palestina.

Hal ini bisa dilihat, cabinet yang dipilih Obama adalah figure-figur yang didaur ulang dari cabinet Bush. Banyak kalangan yang kecewa. Ada juga yang mengatakan cabinet Obama adalah cabinet perang. Bisa dilihat, siapa-siapa mereka. Joe Biden, wakil presiden Amerika. Pria satu ini Yahudi tulen. Dia bercita-cita menjadi Yahudi Zionis. Tidak ada seorang anggota senat Amerika yang menjadi teman terbaik Israel kecuali Joe Biden. Rahm Emanuel, kepala staff gedung putih.

Dia adalah pro Israel . Suka bicara keji dan kejam. Dia tidak akan memilih Obama jika bukan Israel . Hillary Clinton, menteri luar negeri. Hillary seorang neo-konservatif. Dia dijuluki dewi perang. Dia mendukung penjajahan atas Iraq, Afganistan, menyarankan serangan atas Iran, mendukugn serangan atas Libanon, dan memuji “tembok apartheid” Israel. Merendahkan rakyat palestina dan menyamakan mereka sebagai teroris. Dan kebinet lainnya yang tak kalah kejam seperti. Robert Gate, menteri pertahanan, jenderal James Jone, penasihat keamanan nasional, Dennis Ross, penasihat kebijakan Timur Tengah. David Axelrod, penasihat senior dan ahli strategi Obama.

Dengan bukti cabinet perang yang disusun Obama, nampak jelas jika Obama setali tiga uang dengan pendahulunnya, Bush. Yang membedakan hanya software-nya saja. Sedangkan hardware-nya sama. Obama adalah musuh islam yang tidak layak diharapkan.
Lebih jauh, mengenai siapa sebenarnya presiden Obama, hubungannya terhadap Israel, kabinet perang bentukannya dan rencana-rencan kedepan melawan islam bisa Anda baca di buku 120 halaman yang ditulis oleh Tony Syarqi. Salah satu jebolah Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah (KMI), Ngurki, Jateng. Pesantren yang dulu pernah dituduh teroris.

Kebencian penulis terhadap Israel dan Obama membuatnya menyajikan tulisan tersebut dengan penuh semangat perlawan terhadap yahudi zionis. Kalimatnya ringkas dan padat. Tapi, memberikan bukti, bahwa Obama bukan pembawa angin segar. Dia sama dengan para pendahulunya yang pro Israel, Bush.

Diresensi oleh Syaiful Anshor dari buku “ Presiden AS pertama yang 100% Yahudi karangan Tony Syarqi”

Read more...

Sabtu, 21 Maret 2009

Pilih Budi Anduk Jadi Cawapres



Ajang pilpers 2009 mendatang, banyak elit politik berebut menjadi capres. Cawapres menjadi tidak prestise. Tak ada salahanya, jika Anda sebagai capres mempersunting Budi Anduk aktor komedi menjadi cawapres Anda. Lagi pula, popularitasnya akhir-akhir ini naik tajam lantaran kelucuanya. Di republik ini, kualitas tidak menjadi syarat, yang penting pularitas.

Read more...

Jumat, 13 Maret 2009

Euforia Kebablasan Pers Pasca Reformasi

Sensor pers di era reformasi sudah beralih dari pemerintah kepada communal cenchorship atau religius interest.

Kebebasan (independensi) pers mutlak dibutuhkan untuk kontinuitas sebuah media. Selain itu, pers juga harus netral tidak berpihak pada satu interest group atau communal saja. Pers harus pluralis dalam mengakomodir heterogenitas masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Atmakusumah Astraatmadja dalam seminar terbuka tentang “Dekriminalisasi Kebebasan Pers Dan Ekspresi; Mozaik Sejarah Pers Indonesia,” di Gedung A FISIP Unair.


Penulis buku “Tuntutan Zaman Kebebasan Pers Dan Ekspresi” ini, mensyaratkan kebebasan pers dalam tiga syarat. Pers harus memiliki etikad baik (good will), pers tidak boleh memiliki niatan buruk (bad will), dan pers harus berdiri untuk kepentingan umum

“Kalau pers hanya berpihak untuk interst group dan tidak melihat kepentingan publik, maka pers bisa dituntut netralitasnya,” ujar pengajar lembaga pers DR. Soetomo ini.
Menurut Atma, netralitas pers pada masa orde baru terhegemoni pada pemerintah dan keluarga Cendana. Pers tidak bisa menyentuh keluarga Cendana.
“Sekali menyentuh dan dinilai mendiskriditkan, maka akan dibredel,”imbuhnya. Pada orde baru kebebasan pers sebuah utopia. Banyaknya pembredelan media masa dan pemenjaraan reporter, demonstran dan dosen yang menyuarakan ekspresi dan kritik membuat pertumbuhan pers stagnan.

Kondisi itu berbeda setelah reformasi. Menurut Ketua Dewan Pengurus Voice of Human Rights (VHR) ini, pada era reformasi kran kebebasan pers dibuka lebar. Pemerintah tidak lagi menghegemoni pers dalam dalam menyuarakan ide dan kritik.
Hal itulah yang menyebabkan, pers mengalami euforia reformasi yang kebablasan. Banyak yang melakukan kritik dan ekspresi tidak sesuasi etika dan kode etik pers. Misalnya, ada yang mengkritik Megawati dengan ungkapan, “Mulut Megawati bau solar”. Ada pula yang mengatakan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) “Babi” dan “Anjing”. Menurutnya kritik tersebut kelewatan.

“Walau maksudnya bukan menyamakan mulut megawati dengan bau solar, itu cuma kritik,”imbuhnya. Namun harus lebih sopan. Selain masalah euforia reformasi yang berlebihan, tekanan dan sensor pers dari publik juga menjadi masalah baru bagi kebebasan pers. Menurut Atma, sejak reformasi, ada sejumlah peristiwa yang menjadi batu sandungan kebebasan pers. Seperti Tabloid Bijak di Padang dirusak, Koran Jawa Pos di Surabaya tidak bisa terbit sehari gara-gara didemo Banser, dan radio di Solo yang dituntut FPI untuk ditutup gara-gara menyiarkan seorang Pendeta. Serta peristiwa lainnya yang dilakukan masyarakat. Menurut Atma, hal itu karena sensor pers sudah beralih pada communal cenchorship, interst group atau religius interest.

Meski pada masa reformasi kebebasan pers belum sepenuhnya terjamin. Menurut wartawan senior ini, masih ada sekitar 35 undang-undang yang dapat memenjarakan wartawan. Wartawan masih dalam rentan keselamatan. Atma menyayangkan, jika ada wartawan yang disidang terkait masalah berita yang dia tulis. “Seharusnya seluruh awak redaksi, sebab kerja wartawan adalah kerja borongan,” ungkapnya. [ans/www.hidayatullah.com]

Read more...

Tiga Aspek Evaluasi Tidak Inklud

UAN (Ujian Akhir Nasional) merupkan tolak ukur dari kelulusan, maka tak sedikit dari siswa yang merasa wa-was jikalau tidak lulus. Beda lagi bagi pihak sekolah, momen ini merupkan ajang penentuan prestise, dan trust (kepercayaan) masyarakat akan kualitas sekolah tersebut. Kepanikan tersebut kian bertambah, lantaran passing grade (standar kelulusan) yang ditentukan pemerintah bertambah dari 4,26 menjadi 5,0.


Melihat angka kelulusan tahun lalu saja mencapai 91,43 persen dengan passing grade 4,26 apalagi tahun ini dengan passing grade yang tambah naik dan soal yang semakin susah, jadi tidak heran bila siswa dan guru menjadi kian panik. Bagi siswa takut tidak lulus sehingga harus nge-her (mengulang), bagi guru takut jika sekolahnya tercoreng karena muridnya banyak yang tidak lulus.

Ternyata kepanikan

Bila dianalisis, ternyata penyebabnya karena kurangnya persiapan baik dari pihak siswa maupun Diknas di masing-masing daerah. Bagi siswa, kurangya persiapan penguasaan materi ujian ditambah lagi dengan bayang-bayang tidak lulus, dengan demikian siswa akan mengalami tekanan jiwa (pressure) sehingga menimbulkan ketegangan saat menghadapi ujian. Apalagi tiga mata pelajaran yang di-UAN-kan, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris cenderung sulit, selain itu, siswa juga harus mempelajari pelajaran lain yang akan di-UAS-kan. Bagi siswa di sekolah terpencil, passing grade 5,0 terasa sangat memberatkan, karena fasilitas dan guru masih sangat minim, namun mereka harus menghadapi materi ujian yang sama diujikan di sekolah-sekolah kota atau elite. Bagaimana mereka bisa menghadapi ujian listening Bahasa inggris, sedangkan di Sekolahnya belum ada laboratorium Bahasa atau radio center.

Bagi Depdiknas, pengadaan UAN dengan passing grade tinggi 5,0 dan prosedur pengawasan begitu ketat cenderung dipaksakan, padahal siswa belum begitu siap. Akibatnya banyak program yang digulirkan ternyata overlap dan terbengkalai atau menimbulkan masalah baru. Seperti di Surabaya enam anggota TPI (Tim Pengawas Independen) mangkir selama enam hari. Beredarnya kunci jawaban palsu, pengawasan yang terlalu longgar, sehingga siswa banyak yang berbicara satu sama lain atau minta izin keluar tanpa pengawasan( Jawa Pos 19/4/2007).

Taxonomy Bloom

Bila dianalisis lebih jauh, sebenarnya UAN yang merupakan evaluasi akhir sekolah yang menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa belum integral, dan belum sesuai dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). UAN hanya mengarah kepada ranah kognisi saja, sedangkan afeksi dan psikomotor belum tercakup. Sedangkan menurut Benjamin S. Bloom dalam buku : Taxonomy of Educational Objectives berpendapat bahwa setiap dalam evaluasi hasil belajar harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain yang melekat pada peserta didik, yaitu ranah proses berfikir (cognitive domain), ranah nilai atau sikap (affective domain), dan keterampilan (psychomotor domain).

Inilah kesalahan dalam pendidikan di Indonesia, yang menyebabkan makin terpuruknya pendidikan Indonesia di mata dunia. Peserta didik hanya dijejali berbagai macam mata pelajaran tanpa memperhatikan ranah afeksi dan psikomotor. Dan hasilnya, para siswa hanya sibuk memperkaya sisi kognisinya saja, tanpa diimbangi dengan pengayaan kecerdasan afeksi (attitude). Terbukti, ketika ujian sedang berlangsung, banyak para siswa yang sudah menampakkan ketidakberakhlaknya kepada guru, seperti mengeroyok, memukul dan memaki.

Pendidikan seperti ini hanya akan menghasilkan cendikia yang gersang akan akhlak dan sikap luhur (attitude). Insan cendikia seperti ini hanya akan menjadi bumerang atau belenggu bagi pembangunan bangsa. Sebab semangat yang dibangun adalah semangat eksploitatif yang jauh dari nilai-nilai humanitas yang diembrioi oleh dominasi ranah kognisi saja. Disisi lain, akibat tidak tersentuhnya ranah psikomotor mengakibatkan banyaknya pengagguran, dikarenakan tidak teraplikasinya ilmu-ilmu yang dipelajari di bangku sekolah. Ilmu tersebut hanya diendapkan menjadi teori di otak tanpa aplikasi di lapangan.

Tidak bisa dipungkiri lagi, terjadinya kekisruhan ketika UAN dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara ranah kognisi, afeksi dan psikomotor para siswa. Sehingga siswa sangat mudah sekali tersulut emosi dan melakukan tindakan konfrontatif atau cenderung kasar. Karena sejak di bangku sekolah ranah afeksi masih jarang disentuh. Terbukti, kekisruhan disekolah tidak hanya terjadi waktu UAN saja, namun hal ini juga kerap terjadi di luar waktu UAN seperti tawuran antar pelajar ataupun murid ngelawan guru. Bila hal ini tidak ingin berlarut-larut, maka dunia pendidikan di Indonesia harus dirubah sitem penngajaran dan evaluasinya. Dalam hal ini proses pendidikan harus meng-inkludkan ranah kognisi, afeksi dan psikomotor. Dalam evaluasi (ujian) harus menjadikan ketiganya sebagai standar kelulusan siswa.

Ditulis Oleh Syaiful Anshor
Opini telah dipublikasikan oleh Koran Jawa Pos

Read more...

Selasa, 10 Maret 2009

Mustahil, ‘Wajah’ Bopeng DPR Mendatang Lebih Baik

Banyaknya calon legislatif (caleg) yang terjerat berbagai kasus moral, mustahil membuat ‘wajah’ DPR menjadi lebih baik. Dengan realitas yang akhir-akhir ini terjadi, mustahil, stigma negatif DPR, seperti gemar korupsi, hobi selingkuh, suka menghamburkan uang Negara akan hilang.

Sebab, belum saja pemilu diadakan, beberapa caleg yang sudah berani melakukan pelanggaran. Seperti kasus narkoba, korupsi, illegal logging, dan pergi ke panti pijat. Bahkan, tindakan amoral tersebut ada yang dilakukan oleh kader partai islam.
Sebagaimana yang dikatakan Sekretaris Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN) Jateng Eko Haryanto, di Semarang, Jateng ada dua caleg yang terlibat narkoba dan 13 terlibat korupsi. Hal tersebut belum dengan kasus-kasus yang terjadi di daerah lainnya.

Dari sini bisa diketahui, selektiftas moral caleg sangat rapuh. Tidak adanya rekam jejak dan fit and proper test para caleg yang dijadikan test case partai. Pemilihan caleg hanya berdasarkan uang dan popularitas. Sedangkan moralitas dan kompetensi menjadi second option.

Dari realitas inilah, maka sanksi, jika pemilu tahun ini bakal mengeluarkan para wakil rakyat yang menjunjung tinggi nilai moralitas. Sehingga, tidak mustahil, ‘wajah’ bopeng DPR akan terulang kembali. Ironis bangsa ini akan bermoral baik. Sebab, para calegnya sejak awal mula saja sebagian sudah terindikasi amoral. Tunggu saja ‘wajah’ bopeng DPR yang berikutnya. Yang pasti tak kalah seru.
ditulis oleh: Syaiful Anshor

Read more...

Mualaf Senduro, Sempurnakan Islam Dengan Nikah Jilid Dua

Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Kabut putih pun masih menggelayut di sepanjang langit desa Puncak, Argosari. Desa yang tingginnya 170 dari permukaan laut. Terletak di sebelah Timur gunung Bromo. Udara dingin mengalir sepoy-sepoy menusuk kulit. Namun hal itu tidak dihiraukan Ngatiri (50). Pria paruh baya ini, bersama Sunarti, istrinya menembus ‘gigitan’ pagi kaki bukit gunung Bromo itu menuju sebuah Masjid di dusun Tempuran, Senduro. Kedatangan keduannya tidak lain untuk menikah lagi. Bukan untuk istri kedua, namun untuk memperbaharui pernikahan yang dulu tahun 1940 ia lakukan secara Hindu.

Tidak membawa perlengkapan nikah layaknya calon pengantin pada umumnya. Ngatiri hanya memakai baju kusam dan sandal jepit. Dia tahu, perlengkapan nikah beserta maharnya telah disediakan Baitul Mal Hidayatullah (BMH). Jadi, Ngatiri hanya modal datang saja. Setibanya di Masjid Nurul Huda, Ngatiri bertemu 70 pasang pengantin lainnya. Mereka datang dari berbagai daerah di Senduro. Seperti, Pusung Duwur, Wonocempoko Ayu, Argosari, dan Burno. Sebagian besar mereka telah menikah dan beragama muslim. Hanya beberapa saja yang mualaf.

Ngatiri adalah salah satu peserta mualaf. Masuk islam pada tahun 2007. Sebelumnya menganut agama Hindu. Awal mula mengenal islam dari para dai asal Hidayatullah Lumajang yang setiap hari mengajaknya berdiskusi tentang islam. Sejak itulah, Ngatiri kepincut ingin masuk islam. Ketika ditanya alasannya, Ngatiri mengaku bahwa islam agama yang mengajarkan kebersihan. “Setiap shalat wajib berwudhu” tutur Ngatiri mantap. Hal itu menurutnya tidak ditemukan di agama Hindu. Setelah memeluk islam, keimanan Ngatiri semakin kuat. Ngatiri mulai mengerjakan ajaran islam sedikit demi sedikit. Pada akhir Agustus 2008, Ngatiri mengikuti sunat masal yang diadakan BMH.

Ada hal menarik ketika kakek tiga cucu ini melakukan aktivitas suami istri. , Menurutnya lebih enak sunat dari pada nggak. “Ya adalah mas, pokonya lebih enak,”ujarnya sambil tersenyum malu. Meski sudah tua, untuk berbicara hal itu Ngatiri masih sangat nyambung. Untuk lebih memantapkan lagi pernikahannya, Ngatiri pilih ikut nikah masal secara islam. ketika ditawari dai Hidayatullah, Ngatiri langsung setuju. Sebagaimana pengantin lainnya, Ngatiri ikut dirias. Wajahnya dipupuri dan bibirnya diberi lipstik berona merah. Dengan dirias, wajah paruh baya Ngatiri nampak lebih muda. Walau labirin-labirin wajah tuanya masih nampak jelas. Setidaknya, Ngatiri bisa tampil layaknya pengantin perjaka.

Selain Ngatiri, calon pengantin mualaf lainnya adalah Paiti (20). Dia menikah secara Hindu dengan Sumo 12 tahun yang lalu. Kini memiliki satu anak, Irfan Efendi (8). Keduanya memutuskan diri masuk islam pada tahun 2007 yang lalu. Alasan Paiti masuk islam, karena iri melihat teman-teman Irfan mengaji al-Quran di Mushola. Sedangkan anaknya di Hindu tidak memiliki aktivitas serupa. Menurutnya Hindu di Puncak Argosari jarang ada kegiatan. Begitu juga dengan ibadahnya. “Kalau sembahyang pun sendirian, beda dengan islam yang selalu berjamaah,” tutur Paiti. Meski Sumo, suaminya sejak kecil beragama Hindu, namun sudah sunat sejak kecil. Para calon pengantin tidak semuanya mualaf, sebagia besar muslim. Namun dulunya nikah secara siri jadi tidak memiliki surat nikah.

Meski pernikahan mereka merupakan “jilid ke-2,” suasana sakral tetap nampak kental. 70 pasang pengantin khusuk mengikuti jalannya acara. Para pengantin ditempatkan di Masjid dan dibagi menjadi dua bagian. Sebelah kanan lak-laki dan kiri perempuan. Namanya nikah usia tua. Banyak pengantin perempuan di sela-sela prosesi pernikahan yang melakukan aktivitas lain. Ada menggendong anaknya dan ada pula yang menyusui atau sibuk menenangkan anaknya yang nangis.

Sebelum ijab Kabul dimulai, penghulu terlebih dulu memanggil calon pengantin perempuan yang nikah dengan wali hakim. Mereka adalah orang tuanya masih beragama Hindu atau ada yang telah meninggal dunia. Jumlahnya sekitar 28 orang. Di antara pengantin dengan wali hakim, ada 3 pengantin yang bersaudara, Juwita, Karti dan Pujiati. Kontan saja, mereka menjadi sorotan banyak tamu sekaligus para pemburu berita.

Setelah itu, pasangan calon pengantin yang memiliki wali dipanggil satu persatu. Tidak memerlukan waktu lama sebab, ada sekitar 8 penghulu yang siap menikahkan mereka. Mereka dibayar cuma-cuma. “Mereka bekerja secara sosial, jadi tarifnya juga sosial” tutur M. Chofadz, ketua Panitia nikah masal. Untuk memprmudah ijab Kabul , penghulu menggunakan 2 bahasa, Arab dan Jawa. Tidak jarang, penghulu mengulang-ulang serah terima ijab Kabul karena sang pengantin laki-laki belum hafal.
Baru setelah ijab Kabul , mereka disuruh berdiri berpasangan. sang suami memberikan mahar kepada masing-masing istri mereka. Karena jumlahnya banyak, maka ada seorang penghulu yang mewanti agar jangan sampai ketukar pasangan. “Hati-hati, jangan sampai ke tukar pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Tidak berlansung lama, prosesi akad nikah selesai. Dari masjid, para pengantin kemudian diarak menuju lapangan Senduro, yang berada tak jauh dari Masjid. Diiring dengan tabuhan rebana dan sholawat nabi. Para pengantin berjalan menjadi dua baris. Masing-masing pasangan saling berpasangan. di sepnajang jalan, puluhan pasang mata warga memerhatikan setiap gerak para pengantin. Maklum ini adalah pemandangan baru bagi warga senduro. Di lapangan, terop berkapasitas sekitar 500 orang telah tersedia. Untuk para pengantin disiapkan di depan panggung.

Mereka dibagi menjadi dua bagian. Sebelah kanan dan kiri. Ditengahnya, spanduk besar, bertuliskan selamat bagi para pengantin baru. Ketika itu, kursi bagian depan, yang khusus untuk penjabat setempat masih kosong. “bapak bupati, Syahrazad masih dalam perjalanan” tutur salah seorang panitia. Sekitar 20 menit kemudian baru orang nomer satu di Lumajang itu tiba. Acara ini sebenarnya berisi sambutan dari panitia dan bapak bupati sekaligus tausiyah. Namun, lebih cocok bila dibilang resepsi pernikahan. Resepsi paling meriah yang pernah ada di lumajang, dihadiri bupati dan lebih 500 tamu undangan. “Acara pernikahan paling meriah dari acara yang ada di Lumajang. Di hadiri bapak Bupati dan dihadiri banyak orang. Ini pertanda yang nikah adalah orang-orang penting,”tutur pembawa acara.

Di saat memberikan sambutanya, Syahrazad, mengucapkan terimkasih kepada Hidayatullah yang telah membina masyarakat senduro. Menurut Syahrazad, apa yang telah dilakukan Hidayatullah merupakan langkah yang bagus. Oleh karena itu, dia berharap agar hidayatullah kedepanya tetap melakukan pembinaan di Senduro.
Beda lagi yang disampaikan ustadz, As’ad dalam tausiyahnya.

Menurutnya nikah berasal dari tiga huruf. Nun, kaf, dan kha. Nun-nya itu nikmat, khaf-nya karamah (kemuliaan), dan ha-nya hikmah. Oleh karena itu, jika kita menikah nscaya banyak nikmat dan keberkahan yang didapat. As’ad mencontohkan dengan tanpa malu. “Manusia telah diberi Allah fasilitas, kalau laki-laki zakar sedangkan permpuan farj, alat ini harus disalurkan dengan benar dan kepada haknya, jangan sampai nyasar, ujar As’ad yang disambut tawa peserta.

Di tengah-tengah acara itu, ada sepasang pengantin yang bersahadat. Pasangan ini adalah, Warto dan Sumariah. Pasangan yang baru bersyahadat ini langsung dinikahkan didepan bupati dan disaksikan oleh ratusan undangan.
ditulis oleh: Syaiful Anshor

Read more...

Minggu, 08 Maret 2009

Juara Olimpiade Sains Tak Perlu Privilege

Niat baik UI memberikan privilege (masuk tanpa tes) kepada para juara olimpiade sains patut diacungi jempol. Itu menandakan UI memiliki perhatian khusus terhadap pelajar yang berprestasi. Sudah seharusnya iktikad baik tersebut diikuti pemerintah dengan memberikan beasiswa dan biaya hidup selama kuliah.

Memang, olimpiade dengan SMPB beda jauh, baik dari segi prestise maupun bobot soal. Namun, sistem dan materi uji atau evaluasi pendidikan di Indonesia, beda dengan sistem olimpiade. Jika materi uji olimpiade hanya satu disiplin ilmu sains, namun SPMB merupakan gabungan berbagai disiplin ilmu. Jika para juara olimpiade dimasukkan UI tanpa tes, itu merupakan diskriminasi akademik.

Menarik apa yang disampaikan Afif Mu’zi di kolom ini kemarin (10 September 2007) bahwa masuk UI tanpa tes khusus merupakan privilege khusus yang harus diberikan juara olimpiade. Mengapa? Sebab, hal itu dapat menspesialisasikan juara olimpiade dalam satu bidang yang dia tekuni. Terlepas apakah opini itu solutif atau tidak, namun bila statemen tersebut disinkronkan dengan system uji SPMB, maka akan tidak macth.

Bila keputusan UI benar-benar digulirkan, komitmen diknas (pendidikan nasional) dalam sitem uji SPMB patut diupertanyakan. Sebenarnya, saya setuju bila system uji perguruan tinggi terspesialisasi karena hal itu memudahkan para pelajar untuk menekuni satu bidang. Tapi, tentu hal tersebut membutuhkan perubahan yang signifikan dan holistik terkait masalah ujian, evaluasi, dan kurikulum yang sudah berlaku.

Lebih jauh, bila ingin mempertanyakan, kompetensi para juara olimpiade dalam disiplin ilmu lainnya masih perlu disanksikan. Sebab, boleh jadi, mereka hanya menguasai satu bidang ilmu. Bila olimpiade tingkat nasional maupun internasiuonal lebih bargaining daripada SPMB, lalu kenapa tidak dites saja untuk ikut SMPB. Saya anggap hal itu bukan masalah. Sebab pasti mereka akan lulus.

Namun, tidak menutup kemungkinan, walau sudah juara oliimpiade, tetap masih ada yang tidak lulus unas (ujian nasional), apalagi SMPB yang materi ujiannya lebih berat unas.seperti yang dialami Alex Arida, juara keempat Olimpiade Fisika Universitas Negeri Semarang (Unnes) Agustus 2005, yang tidak lulus unas hanya gara-gara nilainya di bawah rata-rata sehingga harus megikuti paket C.

Kenapa juara olimpiade harus mengikuti SPMB? Sebab, biasannya, self motivation pelajar masih labil. Dalam hal belajar, para juara olimpiade masih mengandalkan external motivation. Walau sudah menggondol medali, tidak tertutup kemungkinan para juara akan bermalas-malasan dalam mempelajari pelajaran lainnya. Akibatnya boleh jadi, dia tidak lulus SPMB.

Lain lagi bila harus mengikuti SPMB, tentu para juara akan lebih bersemangat lagi untuk belajar berbagai disiplin ilmu, bukan hanya yang dia tekuni. Dan hal itu juga dapat menstimulusasi para juara untuk meraih prestasi dalam segala bidang. Sebab, kecerdasan dan kemampuan seseorang yang telah Allah berikan tidak unlimited dan tidak akan overload hanya gara-ghara in-putnya melebihi kapasitas otak. Sebagimana ilmuan muslim Ibnu Shina, selain ahli kedokteran, dia juga expert di bidang agama dan tasawuf. Namun, barangkali, para calon yang akan mengikuti olimpiade sains harus diberi waktu ekstra dan ada bimbingan khusus untuk mengajar ketertinggalannya dalam mempelajari disiplin ilmu ilmu lainnya. Dengan demikian, dia tidak tertinggal dan tidak takut menmghadapi SPMB hanya gara-gara tidak menguasu disiplin ilmu lainnya.

Memberikan privilege kepada mereka yang berprestasi sah-sah saja, namun tidak harus memasukkan ke UI tanpa tes. Sebab, hal itu dapat mematikan potensi besar di balik kecerdasannya selain itu hal tersebut merupakantindakan diskriminasi akademik yang dapat menimbulkan kecemburuan sosiasl. Sebab, olimpiade sains berbeda dengan SPMB.

Seharusnya juara olimpiade diberi privilege khusus seperti bebas yang kuliah. Sebab, orang yang berprestasu di Indonesia terkesan kurang dihargai. Jangan seperti yang dialami Mulyono, pelajar asal Kediri, Jawa Timur, yang telah mengharumkan nama bangsa dalam olimpiade Bilogi di Brisbane, Australia, dengan meraih mendali perunggu, prestasinya hanya dihargai lima juta rupiah dan dispensasi uang masuk 45 juta rupaih, sedangkan dia tetap harus membayar biaya kuliah peresemester di ITB Rp. 1.700.000. Belum lagi biaya hidup, makan indekos, beli buku dan fotokopi.

Dia harus membayar sendiri dan hal itu sangat memberatkan kedua orang tuannya. Sebab, sebagai orang desa, barangkali tidak punya cukup biaya untuk menyekolahkan anaknnya. Karena itu, tak heran bila banyak orang pintar di Indonesia yang lebih memilikih dikuliahkan Negara asing. Selain biaya pendidikan terjamin, masa depannya sudah jelas.

Di Indonesia, prestasi dalam pendidiakan kurang dihargai. Ini sangat berbeda dengan akademi-akademi pencetak artis dan penyayi, sperti AFI, Indonesian Idol, KDI, dan lain-lain. Hanya dengan modal wajah cantik dan suara bagus, mereka sudah bisa mendapatkan segalannya, popularistas dan financial yang tidak sedikit.

Karena itu, tak menhgherankan bila pelajar Indonesia lebih menginginkan mengikuti audisi selebriti daripada olimpiade. Ini sangat disayangkan. Sebab, pelajar-pelajar Indonesia sebanrnya sangat brilian. Jadi, sudah saatnya pemerintah dan perguruan tinggi negeri memebriakan privilege kepada para juarta olimpiade yang tak kalah bombastisnya dengan akademi para artis. Bukan dengan cara memasukkan mereka tanpa tes, tapi demngan kemudahan biaya kuliah dan hidup selama kuliah.

Ditulis oleh Syaiful Anshor

Dipublikasikan Koran Jawa Pos, Selasa 11, September, 2007.

Read more...

What's

Islam mengajarkan kepada kita untuk tidak mem-publise kebaikan yang telah kita lakukan. Karena hal itu ditakutkan bisa mereduksi ke-ikhlasan. Biasakanlah memberi tanpa harus diketahui tangan kiri Anda. Keep spirit and never give up dalam beramal sholeh.

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP